Header Ads

MA-BDMS Lakukan Percepatan Penangan Pencegahan Stunting di Kabupaten Malinau

  

Tim CSR MA-BDMS bersama Tim Pemerintah Kabupaten Malinau dalam penanganan stunting mendapatkan penghargaan. Foto: Maman

Mediacsrindonesia.com – Malinau. Untuk menangani stunting di Kabupaten Malinau, PT. Mitrabara Adiperdana, Tbk dan PT Baradinamika Mudasukses (MA BDMS) mengalokasikan anggaran CSR-nya dengan melakukan beberapa kegiatan. Melalui program Mitra Keluarga Sehat, stunting menjadi salah satu program prioritas.

Beberapa kegiatan yang menjadi bagian dari program Mitra Keluarga Sehat, khususnya untuk penanganan stunting adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Pendampingan Ibu Hamil, Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu dan Kader Pembangunan Manusia, hingga peningkatan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan di Malinau.

Dalam menjalankan program tersebut, MA-BDMS bersinergi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau, melalui Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas PMD, dan beberapa SKPD terkait. Sinergi multi sektor dalam penanganan stunting ini, setiap tahunnya dilakukan evaluasi oleh Pemerintah Provinsi terkait Penilaian Kinerja Kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Utara dalam pelaksanaan 8 aksi Konvergensi Percepatan Pencegahan Stunting (KP2S) .

Berletak di Kantor Gabungan Dinas Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), pada Kamis, 3 Juni 2021 setiap Kabupaten/Kota di Kalimantara Utara saling mempresentasikan capaian dampak usaha dan inovasinya dalam penanganan stunting yang ada di daerahnya masing-masing.

Dalam paparannya mewakili tim dari Kabupaten Malinau, Dr. Kristian, M.Si, menyampaikan bahwa inovasi dan tindakan yang dilakukan oleh Malinau dalam penanganan stunting ini sangatlah serius. Pelibatan multi sektor untuk bersinergi dan aksi bersama menjadikan hal-hal yang sudah dilakukan bisa mendapatkan hasil maksimal.

Tahun 2020, Malinau telah mencapai 14,47%. Capaian ini telah berhasil mendahului target RPJM Nasional Tahun 2024 dengan angka stunting 14%.

“Namun, usaha kami tidak akan berhenti disitu saja. Masih banyak hal yang kita lakukan ke depan agar Malinau bisa bebas stunting. Melalui pemaksimalan program unggulan RT Bersih, harapannya akan ada peningkatan perilaku kehidupan masyarakat yang lebih baik sehingga itu berdampak dan berkolerasi terus terhadap turunnya angka stunting di Malinau,” jelas Kristian selaku Kepala Bappeda & Litbang Malinau.

Pada evaluasi penilaian kinerja tersebut, Kabupaten Malinau terpilih menjadi yang terbaik dengan meraih juara 1 dalam Penilaian Kinerja Kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Utara dalam pelaksanaan 8 aksi KP2S tahun 2021.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut dari tim Malinau adalah Bappeda & Litbang, Dinas Kesehatan, DPMD, PKK, Ketahanan Pangan, BPS Malinau, dan CSR MA BDMS. Kehadiran masing-masing pihak dalam kegiatan ini merupakan wujud keseriusan Malinau dalam turut serta melakukan penanganan stunting.

Tim CSR MA-BDMS saat menyampaikan pemaparan program CSR yang bersinergi dengan pemerintah kepada tim penilai. Foto: Maman

Egosonie Enggar Bastiar, CSR Officer PT MA-BDMS, menyampaikan bahwa apa yang MA-BDMS lakukan melalui program Mitra Keluarga Sehat adalah bentuk nyata wujud kepedulian perusahan dalam turut serta penangan stunting di Kabupaten Malinau di bidang kesehatan.

“Untuk melakukan penanganan stunting ini, kita haruslah saling sinergi tiap lini. Hal ini agar semuanya aman dan sehat. MA-BDMS setiap tahunnya selalu melakukan FGD (Focus Group Discussion) dalam penyusunan program kegiatan bersama pemangku kepentingan, dan stunting menjadi salah satu pokok bahasan. Tujuannya adalah agar program dan kegiatan yang kita lakukan tidak saling tumpang tindih, sehingga upaya yang dilakukan bisa maksimal dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan. Kami percaya kontribusi sekecil apapun bila kita lakukan bersama maka hasilnya akan luar biasa,” Ujar Egosonie saat memberikan penyampaian dalam kegiatan penilaian kinerja KP2S 2021.

Stunting sendiri termasuk salah satu isu yang dalam salah satu strategi nasional. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. (Endra)

Diberdayakan oleh Blogger.